Gadis Penjual Kecap

Gadis – Gadis Penjual Kecap

 

Yogyakarta Mei 1948

“Mbakyu, ayo kita ke Desa Krapyak. Kita harus mendapatkan beras hari ini”

“Iya nduk, orang tua kita akan marah jika tidak ada beras”

Parjinah kecil bersemangat sekali memikul barang dagangannya berupa 7 buah botol kecap kecil dan ajaknya pula kakak sepupunya si Sumi. Mereka sudah tidak sekolah lagi karena geger perang Belanda lagi. Kedua gadis ini hanya bisa mengenyam sekolah SR (sekolah rakyat) sampai kelas 3 di daerah Kintelan. Membanting tulang untuk membantu orang tuanya sudah hal wajib di zaman perang ini.

“Jarik atau rok”? Tanya parjinah ke Sumi

“Rok saja tetapi kita memakai kebaya” Jawab Sumi dengan singkat.

Akhirnya mereka memilih rok karena jika berpaspasan dengan tentara Belanda atau tentara pribumi mereka siap lari terbirit – birit. Zaman sudah merdeka tetapi Belanda datang lagi dengan pasukan yang garang dan senjata yang lengkap.

Awan hitam yang bergerombol sudah mulai menghantui perjalanan mereka dari Pojok Beteng Wetan ke Desa Krapyak. Kedua gadis kecil itu memulai perjalanan mereka menjual kecap demi sekarung kecil beras. Langkah kaki kedua gadis Jawa yang berumur 10 tahun dan Sumi 11 tahun ini pun dipercepat seperti dikejar anjing kampung.

“Yu…. Kita harus cepat sebelum ashar, aku takut Belanda datang lagi.”

“Ndak  ngurus….., mau Belanda datang atau hujan turun lebat yang penting kita dapat beras. Mati ya sudah, sumeleh saja.” Jawab Sumi sambil mengusap tetesan keringat yang mulai membasahi keningnya.”

Setelah berjalan dengan memikul botol – botol kecap itu, mereka beristirahat di depan makam keramat Krapyak. Dinamakan demikian karena siang hari saja orang tidak berani lewat melintasi makam apalagi jika malam hari. Slah satu makam tua di Yogyakarta. Bisa jadi petaka datang yaitu bertemu dengan dhemit.

“Yu… berapa lama lagi kita sampai di Desa Krapyak?”

“Lah ini sudah sampai, pie tho? Sebentar lagi, istirahat dulu  di sini. Siapa tahu ada orang lewat dan membeli kecap kita.”

“Jangan lama – lama, ini kuburan sepi nyenyet. Takut aku.”

Barang kali sudah 15 menit mereka menunggu orang lewat depan makam keramat itu, tetapi tidak ada orang yang lewat satupun. Tiba – tiba terdengar krosak krosak di tengah – tengah makam.

“Apa itu Yu?”

“Ayam nduk, jangan gelisah begitu. Sudahlah kita lanjutkan menuju desa lagipula suasana jadi aneh kok sepi sekali.” Ajaknya Parjinah jalan lagi.

Tiba- tiba mereka mendengar suara tembakan berkali – kali dan teriakan pejuang yang berkoar – koar seperti tong di pukul keras.

“Kompeni, kompeni!! Kubunuh jika engkau berani menunjukan batang hidungmu.” Kata salah seorang pejuang sambil mengumpat – ngumpat.

“Mana Belanda itu?” Tanya tentara yang lain.

“Bentar Kang, ada suara tangisan anak perempuan di sekitar sini.”

“Mana mungkin, dhemit alas Krapyak” Kata Pejuang sambil mlintir kumisnya.

Mereka mencari sumber suara tangisan kedua gadis penjual kecap itu. Setelah menyibak rerumputan liar dan menelusuri makam akhirnya mereka menemukan dua gadis kecil sedang berpelukan dan menangis.

“Ampun pak, jangan tembak kami” Parjinah nangis sambil memukul lengan kakak sepupunya.

“Walah nduk, kita saudara. Wes – wes kamu diam, kita sedang mencari dua orang tentara Belanda yang melarikan diri.”

“Kalian lihat tidak?”

Parjinah dan Sumi mematung sesaat dan terlihat bibir mereka membeku diam seribu bahasa. Mereka saling pandang dan menggelengkan kepala.

“Ngapunten pak, kami tidak melihat tentara Walanda” Jawab Sumi terbata- bata.

“Ojo Ngapusi!,”Tentara yang lain melotot ke arah Sumi.

Para tentara pribumi itu tidak puas dengan jawaban Sumi dan mereka malah saling adu pandang.

“Sudah Kang, mereka tidak tahu. Semakin kamu bertanya mereka akan semakin menangis sejadi- jadinya.”

Tentara pribumi saling pandang lagi dan berbisik – bisik dengan sesamanya kemudian salah satu pejuang mengusap kepala Parjinah untuk menyuruhnya untuk berhenti menangis. Terlihat mereka membawa senapan dan melanjutkan perjalanan ke arah kandang Menjangan sebelah barat makam Krapyak. Mereka masih bersemangat mencari dua orang tentara Belanda itu.

“Yu Sumi, pulang ke rumah sekarang.” Sambil mengarahkan pandangan ke tentara pribumi yang makin lama tidak terlihat lagi.

“Sebentar, kita harus pamitan ke tentara Belanda itu” Kata Sumi sambil berbisik.

“Aku di sini saja, takut aku sama orang raksasa putih itu” Parjinah kecil suka menyebut Belanda dengan sebutan raksasa karena tinggi tubuh mereka tidak biasa.

“Ikut, beliau sudah baik pada kita” Akhirnya Sumi menggandeng tangan kecil Parjinah.

“Terima kasih tuan Meneer” Kata Sumi sambil menundukkan kepala.

Tentara Belanda yang kesakitan akibat tertembak lengannya itu tersenyum pada dua gadis Jawa itu.

“Dag….” Jawab tentara Belanda sambil rebahan di nisan kuno makam keramat itu.

Kedua gadis penjual kecap itu akhirnya lari lagi dengan kencang tidak peduli botol – botol kecap itu pecah karena saling bergesekan dan bertumpukan di dalam tenggok yang udah usang. Rasa sedih, takut dan bercampur senang mereka pergi jauh meninggalkan tentara Belanda yang sekarat itu.

Sesampainya di rumah……..

“Yu, ternyata tidak semua tentara Belanda jahat ya?” Kata Parjinah dengan polos.

“Iya nduk, tentara Belanda itu baik sekali pada kita. Uang satu gulden ini bisa untuk membeli lebih dari sekarung beras yang besar.”

“Aku memang membenci tentara Belanda, tetapi untuk kali ini tidak.” Parjinah mengusap ingus yang tidak sengaja meler.

“Ya mungkin ajal sudah dekat, dan ingin membagi waktu berharga dia dengan dua gadis penjual kecap seperti kita ini.

 

Ternyata setelah mendengar suara tembakan, mereka lari dibalik pohon Randu dan bertemu dengan dua tentara Belanda. Sayangnya salah seorang diantaranya sudah meninggal akibat kehabisan darah dan tinggal satu tentara Belanda yang kesakitan menahan timah panas yang bersarang di lengan kanannya. Tentara Belanda itu menyuruh Parjianah dan Sumi untuk menutup mulut dengan bahasa tangan karena tentara Belanda itu tidak mengerti bahasa dua gadis itu. Lalu diberikannya uang satu gulden dari sakunya kepada Sumi dan mereka lari sambil menangis.

Parjinah masih duduk deprok di depan rumah dan masih tertegun apa yang dia alami dengan kakak sepupunya. Ohh Walanda… Walanda tidak semua mereka beringas seperti bapakku ceritakan padaku.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s