Sepenggal Kisah Noni Belanda II

20160403_153515Panggil Namaku Johanna

“Aku ingin menceritakan pada kalian bagaimana keseharianku di kantor cantik ini dan tidak lagi menceritakan bagaimana aku meninggal”

Sudah kuceritakan sebelumnya, aku adalah salah satu staf administrasi kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappjic yaitu perusahaan kereta api di Hindia Belanda. Usiaku masih muda 20 tahun dan aku belum menikah namun aku sudah masuk kelas senior karena prestasiku dalam bekerja. Aku orang Belanda asli tetapi aku dilahirkan di tanah timur ini. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan adik perempuanku. Setiap pagi kukayuh sepedaku menuju kantor cantik ini pukul 7.30 an. Aku bekerja dari pukul 8 hingga 4 sore terkadang aku pulang pukul 7 malam. Bangunan megah yang menjadi kantorku ini adalah bangunan paling megah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Bangunan bergaya art deco  ini dibangun selama 3 tahun dari tahun 1904 hingga tahun 1907. Cukup lama bukan? Untuk membuat orang-orang terpana melihat kantorku ini.

Bangunan kantorku juga mempunyai banyak pintu dan lorong yang memanjang. Terkadang aku dan teman-teman perempuanku bertingkah seperti anak kecil. Kami berlari-lari dan bersenda gurau menyusuri lorong panjang sambil mengangkat rok kami sedikit. Beberapa rekan perempuanku juga di mabuk cinta oleh sesama rekan kerja kami para pria Belanda muda di sini. Tempat favoritku adalah di lantai 2 gedung A karena di sekitar sana tempat ruanganku bekerja. Terkadang aku berjalan turun ke lantai satu. Oh ya ada di kantorku gedung A ini juga terdapat kaca patri yang sangat indah sekali. Sayang sekali mungkin sekarang sudah menjadi “pintu berbagai sahabat” yang tidak kukenali lagi.

Kala itu kantorku sangat sibuk sekali dan banyak pekerjaan menumpuk. Kantor NIS yang di Semarang kala itu adalah kantor pusatnya. Bagian dasar bangunan ini terdapat lorong bawah tanah dan difungsikan sangat bagus yaitu menjadi pendingin alami. Namun… jika sekarang kalian ke bawah sana jangan harap kalian akan merasakan yang biasa –biasa saja. Tidak hanya para kaum kami yang dibantai oleh tentara kerdil itu tapi juga orang-orang pribumi, indo-belanda dan para warga keturunan Cina. Jika mengingat hari –hari itu aku menangis lagi di lantai dua.

Di dalam ruanganku bekerja dulu terdapat tiga set meja, kursi, lemari rak dan beberapa hiasan dinding. Aku bekerja bersama dua orang teman perempuanku. Satu masih lajang sepertiku dan yang kedua sudah menikah. Dua orang Juffrouw dan satu orang Mewrouw. Juffrouw untuk sebutan nona dan mevrouw untuk sebutan Nyonya. Orang – orang kantor memanggilku Juffrouw Johanna kala itu. Kesukaan di pagi hari sebelum memulai bekerja adalah menikmati secangkir teh dan bercakap-cakap dengan teman-temanku seruangan kadang kami ke ruangan lain untuk bertegur sapa. Terkadang aku merindukan suasana kantorku dulu dimana mejaku terdapat mesin ketik, alat tulis, dan tumpukan lembaran kertas yang mungkin kalian tidak akan mengerti serta bahasa Belanda yang membuat kalian sakit kepala.

Bangunan ini sungguh cantik, pasti kalian tidak percaya jika aku berkali-kali cerita namun selama tentara kerdil itu datang, hmmm bangunan ini menjadi tempat penjagalan massal. Terkadang darah menetes dari lantai dua mengalir ke lantai satu. Sisi gedung ini juga menjadi kuburan massal karena tentara-tentara itu membuang banyak jasad termasuk sebagian jasadku. Belum lagi teman-teman priaku ada yang di buang begitu saja di bawah tanah menjadi satu dengan yang lain. Setelah kematianku, aku hanya menetap di dalam ruanganku. Sesekali aku berjalan dan bertemu teman-temanku. Ada yang menangis, ada yang marah, dan macam-macam kelakuan mereka.

Berpuluh – puluh tahun jiwa kami terperangkap di sini, terkadang juga kami masih dibayang-bayangi kejadian kemunculan tentara Jepang secara tiba-tiba. Berlari dan menangis yang bisa kami lakukan dengan wajah kami persis ketika kami meninggal…

Bersambung……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s