Meratapi Drainase Kota Yogyakarta

i88EFa1Gq7

Yogyakarta wajahmu kini kian memprihatikan. Setiap hujan turun entah musim hujan atau musim kemarau ini jalan-jalan di Jogja mulai disibukkan dengan luapan aliran air dari sejumlah selokan kecil (got) yang tak mampu menampung volume air hujan. Sebut saja penggalan sekitar Jalan Monjali, Jalan Kaliurang dan Jalan Solo tepat di depan hotel yang megah itu. Dan mungkin masih banyak lagi.

Tak hanya masyarakat yang bermukim di tepian got saja yang khawatir, karena harus “bersiaga” manakala luapan air berubah menjadi air bah yang tak terkendali. Bukan tidak mungkin rumah, ruko atau tempat mereka beraktivitas akan kebanjiran. Dan akibatnya mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Bagi para pengguna jalan khususnya para pengendara sepeda motor luapan air yang menggenangi jalan, hingga menutup hampir sebagian jalan, bahkan seluruh badan jalan, jelas menjadi masalah tersendiri. Mereka berebut mencari jalan yang tak digenangi air merupakan menu utama. Tak jarang mereka saling “ssenggol” yang berbuntut adu mulut antar pengendara pun tak terelakkan. Para pengendara juga harus menghindar “semprotan” air ketika ada mobil yang berlawanan arah yang kebetulan tak mau mengurangi kemacetan tatkala melewati genangan air itu. Lengkaplah penderitaan sang pengendara motor.

Amburadulnya pemeliharan drainase rupanya belum disikapi tegas oleh pihak yang berwenang. Belum lagi masalah tata kota yang makin “awesome” semwrawut pembangunan hotel yang konon katanya anu “diapusi” *uhuk*….

Pun demikian, dijumpai masyarakat yang tidak peduli akan keberadaan drainase tersebut. Sehingga kasus drainase yang tersumbat sampah domestik selalu menjadi fenomena klise. Sebenarnya pendidikan akan lingkungan sudah digalakkan oleh beberapa masyarakat namun, masih saja kita melihat banyak warga yang “cuek dan tak mempunyai rasa memiliki fasilitas publik tersebut. Maksud saya membuang sampah pada tempatnya.

Fenomena hujan tidaklah datang saat musim hujan saja. Bulan Juni dan Juli saat ini pun kedapatan hujan begitu deras. Seyogyanya gejala fenomena akibat “global warming” ini harus disadari oleh masyarakat dan pemerintah. Tidak harus menunggu banjir atau “dioprak-oprak” oleh masyarakat yang peduli dengan alam. Kemudian baru dilakukan pembenahan. Hello Pak bu? Anda masih sehat kan?

Dan menjadi sebuah ironi , ketika perbaikan jalan atau perbaikan saluran baru dilakukan ketika air mulai menghiasi jalan. Klise lagi bukan. Mungkin inilah potret pemerintahan kita. Sebuah ilustrasi sederhana namun nyata untuk menggambarkan sebuah pengelolaan pemerintah tak ramah lagi dengan lingkungan. Dan yang paling utama sekarang adalah pembangunan hotel dan mall “tjantiek” tanpa melihat keseimbangan alam. Hello lagi Pak bu, anda sehat?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s