Aku Mengabisi Nyawaku Sendiri Untuk Kehormatan Ayahku II

Daha 1293

 

“Nduk, cah ayu. Janganlah engkau bersedih hati. Semua sudah takdir.” Kata Ratna sambil memelukku.

“Bersedih hati itu wajar, aku pun mengerti perasaanmu ketika ayahku membunuh ayah dan ibumu.” Aku membalas pelukannya.

“Dari mana kamu tahu  asal – usulku? Kamu tidak sedang menggigau bukan?” Ratna tampak kaget dan berpura-pura bodoh.

“Tidak Diajeng, aku masih waras. Aku sudah tahu jika teman baruku ini adalah putri Kraton. Baginda Putri Gayatri, tidak usah lagi engkau menutupi siapa dirimu sebenarnya.”

“Sudah lupakan saja hal itu. Ayo kita pergi, para pasukan pangeran muda itu akan datang.”

“Tidak Diajeng, aku di sini saja bersama ibuku. Kami akan mengakhiri hidup kami. Pangeran muda itu akan menjemputmu di sini”

“Ikutlah denganku wahai Baginda Putri Daha, janganlah akhiri hidupmu. Dalam ajaran Buddha, mengakhiri hidup tidaklah baik.”

“Tidak kah engkau ingat Gayatri, kita adalah para perempuan ningrat berkasta tinggi. Hidup kita tidak berbeda hanya saja keyakinan kita berbeda. Dalam agama yang kuanut, kami diwajibkan melakukan pengorbanan diri jika ayah atau suami kita meninggal.”

“Aku mengerti nduk, katakanlah padaku. Apa yang bisa kuperbuat sekarang untukmu? Karena engkau telah merawatku selama ini ketika kedua orang tuaku meninggal.”

“Doakan saja aku Diajeng, aku akan baik-baik saja dengan ibuku. Lagipula jika aku tidak mengorbankan diriku. Aku akan menjadi rampasan perang seperti kedua kakak perempuanmu.”

“Mereka sudah baik-baik saja nduk. Mereka sudah bersama para pengawal Kakak sepupuku.”

“Wahai Gayatri, teman baikku. Ijinkan aku menemui ibuku sekarang di bangsal Keputren.”

“Baiklah tuan putri. Aku akan merindukanmu, semoga suatu kelak nanti kita akan bertemu kembali. Doaku yang terbaik untukmu.” Aku pun meninggalkannya dan terlihat Gayatri berbisik-bisik. Mungin dia berdoa untuk kami.”Teman baruku itu pun melepas pelukannya yang terakhir kali.

 

Aku pergi menemui ibuku dan kulihat beliau sudah siap dan terlihat tanggannya sudah ada dua buah pisau yang tidak biasa. Aku pun tersenyum melihat ibuku.

“Wahai Ibunda, mari kita selesaikan sekarang. Sebelum pasukan Wijaya masuk dalam ke Bangsal Keputren ini.” Aku mencium kening ibuku

“Ndoro putri, kami juga ikut. Hidup mati kami akan selalu menyertai ndoro putri.” Salah satu dayang senior memohon untuk ikut dalam ritual kami.

“Baiklah, sudah siapkah kalian?”

“Sudah Ndoro putri…..”

Pertama- tama ibuku menusukkan pisau ke perut di depan mataku kemudian aku menyusul beliau. Kupegang erat-erat pisau berganggang perak ini dan kutusukkan pelan-pelan ke perutku sampai dalam. Kulihat darah merahku mengucur deras dan aku tersenyum puas. Aku merasakan rasa dingin yang menusuk kulit dan padanganku mulai gelap. Aku pun mengatur nafasku yang terakhir. Wahai Sang Hyang Widhi aku datang………..

 

 

 

10382812_10203017020458751_2366409119173008394_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s