Aku Mengabisi Nyawaku Sendiri Untuk Kehormatan Ayahku

Daha 1293

Sebelum kuceritakan kisah akhir hayatku, aku ingin memperkenalkan diriku. Panggil saja aku Putri Daha. Ya Putri Daha, tak usah kalian tahu nama asliku. Tetapi kalian mungkin tahu nama ayahku. Beliau salah satu raja di salah satu kerajaan di daerah timur dan terkenal bengis. Siapa saja yang menentang beliau maka kepala kalian akan lepas dari leher. Sepintas jika kalian membaca judul ini mungkin kalian akan bertanya – tanya dan mungkin menganggapku gila. Di masa kalian sekarang, bunuh diri adalah tindakan konyol dan tidak waras.

Aku lahir dan besar dalam keluarga Hindhu. Jika kalian paham ajaran Hindhu maka aku tidak akan bersusah payah menjelaskan apa yang pernah kuperbuat. Aku bangga mengakhiri hidupku sendiri bersama ibuku.  Semua ini berawal ketika ayahku membantai salah satu kerajaan leluhur kami sendiri dengan kejam kemudian salah satu pangeran ganteng dan berbadan atletis itu menyerang balik pasukan ayahku hingga memaksa ayahku bertekuk lutut di hadapannya. Jauh sebelum kematian ayahku sebenarnya aku dan ibuku sudah merasakan hal janggal dan bisikan bertubi-tubi. Ingin rasanya aku memberitahu ayah dan kakak laki-lakiku. Namun apalah artinya aku hanyalah seorang Sekar Kedaton yang harus tinggal di Keputren bersama dayang-dayangku. Urusan perang adalah urusan laki-laki bukan urusan perempuan.

Beberapa bulan yang lalu

Malam yang berselimutkan kabut agak tebal menghapiri kota Daha selama beberapa hari. Aku tahu keadaan alam ini tidak seperti biasanya. Terkadang malam itu dihiasi hujan –hujan rintik dan terkadang terdengar suara guntur namun tidak memekakkan telinga. Aku menyukai hujan namun aku sering dibuat kaget jika mendengar bledekan guntur yang seakan-akan ingin meledakkan langit. Guntur tadi biasanya terlihat di langit dengan kilatan – kilatan cahaya yang indah lalu mengoyak gelapnya langit. Hatiku resah jika memikirkan alam yang tidak biasa. Akupun bercerita kepada ibuku apa yang aku alami. Namun beliau hanya diam seribu bahasa kemudian beliau bercerita padaku jika kerajaan tetangga sudah luluh lantah akibat serangan bertubi-tubi ayahku. Ya Ayahku, entah apa yang beliau pikirkan. Membunuh saudara sendiri.

Hal yang mengangetkan lagi, setelah ibu bercerita padaku. Pagi harinya aku melihat dua puteri keratin itu di gandeng setengah di seret oleh para senopati perang. Dayangku berbisik, jika mereka menjadi tawanan perang. Sungguh kejam para senopati perang itu, aku sudah bisa menduga mereka akan berbuat apa. Ingin rasanya aku menghampiri mereka dan mengajak mereka tinggal di Keputren. Tetapi rencanaku ini pasti akan dihalang-halangi oleh dayangku dan ibuku. Bahwa aku tidak boleh ikut turut campur urusan mereka. Suara lengkingan teriakan mereka pun terdengar hingga ke ruangan ini. Aku yakin mereka memperlakukan dua puteri Kraton itu dengan keji.

Aku berlari menuju kamarku dan menutup mataku. Mungkin seperti itulah nasibku jika kerajaan ayahku suatu kalah dan aku akan dijadikan rampasan perang. Aku lebih baik mati daripada melayani nafsu bejat para senopati beserta pasukannya. Ibuku menyusul ke kamarku dan hanya bisa membelai kepalaku dan disuruhnya aku tetap di dalam kamar.

Keesokan harinya di bangsal Keputren…………

Seperti kehidupan para putri Kraton di pagi hari, mereka para dayang-dayang sibuk mempersiapkan kudapan pagi hari. Aku dan ibuku sudah duduk manis dan menikmati teh hangat di pagi hari. Aku pun juga bercanda dengan para dayanngku seusia diriku. Mereka adalah anak para dayang senior. Tiba-tiba Ayahku datang bersama salah satu senopati perangnya menyerahkan dua orang perempuan di Bangsal Keputren. Kemudia mereka meninggalkan tempat ini dan berkata pada ibuku.

“Meraka adalah sisa-sisa orang yang masih hidup”

“Baik Romo……”

Aku kaget setengah mati, apa yang Ayahku lakukan adalah tindakan luar biasa. Aku dan ibuku saling pandang dan kembali menatap salah satu perempuan itu. Aku pun berbisik pada ibuku.

“Perempuan yang di hadapan ibu adalah perempuan yang paling gemilang di kerajaan itu dan suatu saat nanti dia akan mengubah dunia serta membuat sejarah bagi para anak keturunannya”

Ibuku hanya mengangguk saja kemudian ibuku memeluk perempuan tadi. Kemudian ibuku menyuruh perempuan satunya untuk bergabung dengan para dayang-dayang lainnya. Aku dan ibuku akan diam saja apa yang kami lihat. Aku pun masih heran ayahku tidak mengenalinya. Atau mungkin ayahku sudah lelah dan terlalu puas karena terlah berhasil membunuh kedua orang tua perempuan itu. Nama perempuan itu adalah Ratna Sutawan. Namun hatiku kecilku berkata bahwa itu hanyalan nama samara dan nama aslinya akan kurahasiakan.

Aku dan Ratna menjadi teman yang baik mungkin karena seumuran. Tak kusangka dia orangnya cerdas sekali bahkan mengajariku beberapa hal. Setelah kedatangannya, hidupku tidak lagi jenuh dan penuh warna. Terkadang kuhibur dia jika dia terlihat sedih. Beberapa kali dia menglindur memanggil ayah dan ibunya. Aku paham siapa yang dia panggil. Aku pun hanya bisa tutup mulut. Selama tinggal di sini, dia jarang terlihat sedih. Entah sengaja disembunyikan atau memang Ratna dalah orang yang tegar. Kami bersenda gurau, sepanjang hari kuhabiskan bersama dia. Bahkan makan, belajar, jalan-jalan di taman Daha dan tidur bersama. Dia merupakan perempuan tidak biasa. Tetapi hidupku yang berwarna itu tidak lama karena pangeran itu menuntut balas kematian mertuanya.

Kerajaan porak- poranda, banyak prajurit yang mati di medan perang. Dan Terakhir aku mendengar kematian ayahku.Hatiku sangat terpukul, ibuku juga menangis tiada henti. Teman baruku itu pun juga kebingungan melihatku begini tetapi aku melihat dia di sisi lain. Ratna tampak sangat lega sekali. Aku mengerti apa yang dia rasakan. Kematian orang tuanya sudah terbalas. Dan juga Ratna di sini….

Bersambung

 

10382812_10203017020458751_2366409119173008394_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s