Panggil Namaku Johanna “Tentara Jepang itu Memenggal Kepalaku Dengan Katana” Part III

Masih ingatkah kalian beberapa bulan yang lalu, aku bercerita bagaimana aku meninggal dan keadaan kantor tempat kami bekerja begitu indah tetapi setelah tentara kerdil itu datang semuanya menjadi neraka. Bolehlah aku cerita kembali bagaimana aku meninggal di bangunan megah ini. Pada hari itu ketika kami bekerja tiba-tiba beberapa mobil dan truk berisi tentara Jepang turun dari kendaraan mereka dan memasuki kantor kami dengan beringas. Denagn gerakan yang sangat cepat tanpa kompromi, para tentara Jepang itu membunuh rekan kami satu persatu kemudian mereka menaiki lantai dua dan menyeret aku serta teman-teman perempuanku.

Tentara Jepang itu menjambakku dan menyeretku kemudian mereka saling tertawa dengan keras. Ada juga yang mempertontonkan alat kelamin mereka di hadapan kami. Ya para tentara bejat itu memperkosa kami berkali-kali bahkan salah seorang dari mereka memutilasi salah satu anggota badan temanku. Aku menangis dan melontarkan sumpah serapah lagi, bangsat semua mereka. Dendamku kepada mereka sampai kubawa mati hingga aku menjadi gentayangan begini.

Masih ingatkah kalian jika mereka menebas kepalaku hingga putus dan dijadikan mainan oleh mereka? Itulah yang membuatku dan teman- teman perempuanku lainnya terperangkap di bangunan ini berpuluh-puluh tahun lamanya. Kalian juga bisa melihat para teman laki-lakiku terperangkap juga di bangunan ini di gedung B lantai dua. Banyak orang bilang itu adalah tempat pembantaian paling keji selama penjajahan Jepang di Hindia Belanda. Jika kalian jalan-jalan ke ruangan itu mungkin kalian akan bertemu dengan seorag pria Belanda yang akan bercerita bagaimana kisahnya saat meninggal. Panggil saja dia Markus.

Kalian akan dintuntun melihat “video” yang tidak kalah mengerikan. Markus dan para pria Belanda lainnya disiksa berhari-hari bahkan adapula yang dikirim ke bawah tanah untuk lebih di siksa lagi. Sayangnya aku tidak bisa menceritakan kalian lebih lanjut lagi mengenai bawah tanah karena tempat itu sangat terlarang dan kami tidak bisa kesana karena banyak hal. Kembali lagi ke cerita Markus. Banyak dari mereka yang diikat tangannya ke atas dan di siksa mulai dari mutilasi, ditusuk dengan pisau sampai lukanya membusuk. Tidak diberi makan atau minum. Adapula yang di biarkan mati di sana berhari-hari kemudian mereka asal lempar saja jasad para pria Beanda itu di parit samping gedung tepatnya di samping ruangan Dinner Hall.

Lawang Sewu, demikianlah nama yang kalian ketahui sekarang. Salah satu potret kekejaman tentara Jepang kala itu. Aku sebagai salah satu korban mereka tidak peduli jika kalian akan mengatakan bahwa ini adalah yang sudah berlalu.

 

we nooit vergeten wat ze deden voor ons

hoe gelukkig jullie!

je hoeft ze niet te ontmoeten in de afgelopen tijd. Omdat je nooit zal vergeven en vergeten ze

 

 

 

20160403_153515

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s