Wahai Kekasihku, Aku Masih Menunggu Keretamu Datang Part III

Desember 1920

Tak perlu kalian risaukan keberadaanku sekarang, aku hanyalah bagian dari sepenggal cerita dari masa kolonial Belanda. Sampai  kapanpun aku akan tetap berada di sini menunggu kereta kekasihku datang. Namun jika kalian pernah melihatku dan mencoba menelisik kehidupan lebih lanjut lagi maka aku akan diam membeku dan menghantui kalian hingga kalian tidak bisa tidur pada malam harinya.

Jika kalian sopan padaku dan juga “teman-temanku” di sini atau mendoakan kamu di sini maka kami akan senang dan ramah pada kalian. Dalam tulisan terakhir ini aku akan menambahkan sedikit cerita tentang Stasiun cantik ini. Aku tidak akan bercerita lebih panjang lagi. Lagipula sang penulis, perempuan Jawa ini sedang agak sakit gara-gara semalam ada sesuatu yang mengusiknya.

Oyah, tahukah kalian. Jika dekat stasiun ini terdapat sebuah rumah tuan tanah Belanda yang kaya raya. Kemungkinan beliau adalah tuan tanah dan mempunyai usaha di pekerbunan kopi pada tahun 1930 an. Rumahnya sangat bagus bergaya mediteranian. Beliau juga mempunyai anak perempuan namun dia lebih tua dari usiaku. Sayangnya penulis perempuan Jawa tidak mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai noni Belanda anak tuan tanah kaya raya itu. Karena pada saat itu Sekar hanya mampir dan duduk kurang lebih 15 menit di teras rumah.Tuan tanah mendiami rumah indah itu hanya sampai pada tahun 1945 kemudia beliau pindah entah mungkin kembali ke Negara Belanda. Kemudian dibeli oleh seorang wanita berkewarganegaraan Italia. Namun kalian tidak bisa sembarang masuk ke daerah rumah indah ini karena sudah menjadi bagian dari hotel bertaraf Internasional dan berbintang lima. Uniknya lagi jika kalian akan memasuki rumah ini akan disambut bekas bangunan Stasiun Mayong yang berasal dari Jepara. Kemudian , jika kalian beruntung, mungkin kalian disambut oleh “orang-orang” berpakaian inlander dan kepala Stasiunnya adalah orang Belanda dulunya. Syahdu bukan hihi?

Ah sudahlah , itu saja cerita tentang rumah paling indah di dekat Stasiun ini, aku tidak bisa lagi menceritakan lagi. Saatnya aku berpamitan pada kalian, ingat jangan ganggu aku jika kalian mengunjungi Stasiun ini tempat aku menunggu kekasihku. Biarkanlah aku larut dalam rinduku. Dan setiap relung malam menjadi saksi bahwa rasa rinduku pada kekasihku ini amat menusukku hingga merajai sukmaku yang paling dalam. Sekian ………..IMG-20160807-WA0012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s