Suatu Hari Di Kerajaan Majapahit

M, 1330an

Semburat warna kejinggaan bertabur cahaya putih tampak dari langit sebelah timur. Sungguh perpaduan warna yang indah di pagi hari ini. Wahai bumi Majapahit jayalah engkau hingga anak cucuku kelak. Suasana pagi ini juga dihiasi oleh hembusan angin yang semilir dari arah utara ke timur dan menusuk kulitku hingga terasa agak dingin. Kupertajam pendengaranku dan penglihatanku. Suara gesekan dedaunan dan burung yang berkicau di area Keputren ini sungguh sangat menghiburku. Akhirnya masa-masa genting sudah lewat setelah kematian Kakak tiriku itu semuanya sudah kembali normal lagi.

Kuarahkan pandanganku ke perut yang sudah terlihat membuncit. Wahai anakku kelak engkau akan menajdi orang besar dan semua kerabat kerajaan akan menyukaimu begitupun rakyat juga akan menyanjungmu. Tidak peduli engkau laki-laki atau perempuan, engkau akan meneruskan kekuasaanku dan akan kutitipkan pada Mahapatih yang setia itu.sabarlah sedikit nak, engkau akan melihat dunia ini yang indah dan bersabarlah ayahmu akan pulang. Beliau sedang ada urusan sedikit di Tumapel.

“Wahai suamiku – Cakradhara, janganlah engkau lama-lama di sana. Kita masih mempunyai tugas yang berat.” Aku memanggil namanya dalam hati.

Kerajaan ini amatlah besar, bayangkan kurang lebih seluas 11 km dan wilayah kerajaan ini terletak di daratan yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung yaitu Gunung Penanggungan, Welirang dan Anjasmara. Aku menjadi raja perempuan pertama di Majapahit ini juga berkat ibundaku karena beliau ditunjuk sebagai pewaris tahta namun beliau mengundurkan diri dan memilih menjadi bikuni. Beliau mencukur habis rambutnya di mustakanya, kemudian menyepi keluar dari istana. Sangat disayangkan memang,tapi aku tetap menghormati keputusan beliau yang mendadak itu. Sesuatu pasti telah terjadi padanya. Mahapatih kami pun juga sering termenung pada awalnya dan selalu mengunjungi ibuku di sana.

 

“Ndoro Baginda Putri…..” Salah seorang kepala dayang memanggilku dan membuyarkan lamunanku mengingat ibuku.

“Ya mbok, bagaimana?”

“Adik Baginda sudah menunggu di depan Keputren.”

“Baiklah”

Adikku yang manis tidak pernah mengingkari janjinya. Sudah kutunggu dia dari pagi tadi.

Kami berdua tidak pernah bertengkar waktu kecil kecuali saat kupergok dia bersama dengan Tanca si tabib yang rupawan itu. Orang tua kami membiarkan hubungan mereka. Hal itu sengaja dilakukan agar kakak tiri kami merasa jijik enggan meminta menikahi kami berdua lagi. Tetapi ibuku sudah mempersiapkan beberapa pangeran muda untuk kami berdua hanya saja saat kakaku menjadi raja, mereka enggan bertamu ke kerajaan ini. Mereka takut kehilangan kepala mereka.

Sejujurnya sejak kami kecil, hidup kami tidak tenang juga. Karena beberapa kali aku terlibat bertengkar dengan kakak tiriku. Pernah suatu ketika hidungku berdarah karena Kalagemet memukulku dengan keras berkali-kali. Untung saja tulang hidungku tidak patah hanya mengeluarkan darah yang kental dan juga memar di bagian lengan. Ia berindak seenaknya dan suka merusak mainan kami terutama adikku.

Aku juga sering melindungi adikku dari tangan jahilnya. Memang ada yang salah dengan otaknya sedari kecil ataukah memang sifat banyak menurun dari ibunya yang tidak tahu tata karma. Bahkan saat kami beranjak dewasa tatapan nakalnya selalu meliaht kami seperti hasil buruan yang hendak ia makan. Terutama jika melihat adikku, semburat wajahnya berubah seketika menjadi tidak waras lagi.

“Kakaku saying……… “ Tiba-tiba adikku memelukku dari belakang. Masih saja dia seperti anak kecil yang manja walaupun umurnya sudah 20 tahun.

“Adikku yang manis, jangan mengglendot seperti itu. Kamu tahu tidak kalau aku sedang mengandung?”

“Hehehe, aku akan mempunyai ponakan baru beberapa bulan lagi. Jangan khawatir kakak, ia menjadi bayi yang sehat.”

“Lalu dik, kamu belum hamil juga?”

“Anu kak, ……..

 

Bersambung

 

20160730_125908

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s