Panggil Aku juga Panglima Perang

 

M, 1334

 

Kuberikan nama indah untukmu

Itu adalah doa, harapan dan cintaku padamu

Ku ingin engkau seperti leluhurmu  saat dewasa nanti

Kelahiranmu adalah suatu pertanda kedamaian bagi kami

Kau memang kami damba dengan segenap jiwa

Segenap jiwa kami berikan tukmu  anakku

Sepenuh hati kami berjuang untukmu

Anakku sayang..

Kau harapan kami tuk masa depan

 

Setelah sekian lama kami menunggu, akhirnya hari besar itu pun datang. Anak pertamaku lahir, seorang bayi laki-laki yang sehat. Kunamai ia Hayam Wuruk (atau “ayam resi”). Sehingga orang-orang akan mudah mengingat namanya. Namun sebelum anakku lahir telah terjadi gempa bumi yang lumayan besar  di Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Mungkin ini adalah pertanda dari para dewa menginginkan perubahan. Anak laki-laki penerus kerajaan Majapahit telah lahir hasil buah cintaku dengan Cakradhara.

Sepeninggal Kertanegara, kakekku itu. Hayam Wuruk adalah putra pertama penguasa Singhasaridan Majapahit dan yang akan membawa berkah bagi generasi mendatang. Kuakui, aku telat mengandung, terpaut 6 tahun semenjak pernikahanku dengan Cakradhara. Bisa jadi aku mengandung telat karena di awal pemerintahanku, aku sudah dibuat sibuk dengan pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta yaitu pada tahun 1331. Patih muda yang kami andalkan itu malah sedang berseteru dengan Ra Kembar. Mereka berdua malah berdua saling bersaing siapa untuk memperebutkan posisi menjadi panglima perang dalam menumpas pemberontakan tersebut.

Menurut telik sandi kerajaan, pemberontakan di Sadeng semakin besar dan terorganisir. Akhirnya tanpa membuang waktu  lagi. Aku membuat keputusan yang besar. Aku akan menjadi pangilma perang itu sendiri, kutinggalkan mereka berdua sampai mereka menyelesaikan maslaah mereka sendiri. Aku meninggalkan istana demi kelangsungan Majapahit. Tidak pernah terpikir olehku aku menjadi panglima perang. Namun sebagai raja haruslah siap jika memang dibutuhkan untuk terjun langsung ke medan perang.

Aku tidak takut jika memang aku mati muda saat itu. Aku masih ingat apa yang di ajarkan oleh ayahku bahwa perempuan juga harus pandai di medan perang. Patih muda itu salah satu guruku. Ia banyak mengajariku bagaimana membela diri dengan kosong dan juga memegang senjata baik pedang , panah dan sebagainya. Sedari kecil juga, aku sudah belajar ilmu kanuragan dari sesepuh kerajaan. Anehnya yang belajar senjata hanya aku saja sedangkan adikku si Dyah Wyat lebih suka menonton kakaknya berlatih terkadang  mengganguku saat berlatih. Sering ketawa dan mengejekku saat aku berlatih. Kulihat juga dia malah sering berlari-lari dengan anjing kesayangannya di taman dan berbuat usil dengan dayangnya. Duh Dik……

Dia memang benar-benar putri Kraton yang harus di sayang dan dijaga. Tidak menyukai hal-hal yang menyangkut senjata. Namun dari semua kekurangannya dia mempunyai kelebihan di bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni. Keahliannya mungkin menurun dari ibu kami. Dia lebih pintar terkadang menjadi bodoh juga jika menyangkut hal percintaan. Pernah suatu hari, Dyah Wyat adikku berpura-pura sakit. Kemudian dayangnya lari terburu-buru keluar bangsal Keputren memanggil tabib kerajaan itu. Ra Tanca kemudian datang dengan wajah cemas tetapi kemudian  adikku yang manja itu menertawakan dia. Ternyata adikku sering berpura-pura sakit itu ternyata ingin bertemu dengan kekasihnya. Duh Gusti……

Kembali pada ceritaku menjadi panglima perang. Aku pun berangkat sendiri ke Sadeng bersama pasukan Majapahit dan ditemani oleh sepupuku  Adityawarman.Kuhabiskan kurang lebih setahun bersama pasukanku ke Daerah Sadeng. Kami berangkat menggunakan kereta diiringi dengan pasukan berkuda. Pasukan berkuda pertama bersenjatakan tombak dan tameng, pasukan berkuda lapis kedua bersenjatakan panah beracun. Karena mereka yang akan membantu pasukan tombak dan tameng. Kemudian pasukan berkuda siluman yang pandai menyamar terkadang menyebar bekerja sama dengan telik sandi.

Lapisan keempat yaitu barisan kereta kuda, salah satunya kereta yang aku naiki. Terkadang jika aku bosan dalam perjalanan, aku turun dari kereta dan lebih memilih naik kuda hitam kesayanganku. Kala itu aku berbusana seperti laki-laki. Jubah kebesaranku yang dihiasi kancing melekat pada bagian atas tubuhku kemudian aku menggunakan celana selutut yang aku lapisi lagi dengan sarung. Busur dan panah sudah siap di punggung, 1 buah pedang sudah siap di pinggang kiriku, pedangku siap menebas kepala siapa saja yang menyerangku. Aku meang terlihat lembut tetapi aku bisa menjadi sanagt beringas sekali. Darah mengalir di tubuhku ini jugasebagian besar adalah darah …..” Dua buah pisau kecil sudah siap di kedua kakiku. Senjata lainnya tidak akan sebutkan dalam cerita ini karena……….

Bersambung……………………….

327px-Parvati_Majapahit_1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s