Sekar Kedaton Paling Mempesona di Era Medang

fb_img_1487417109083

 

“Sa kantin candramaso gatin ca hamsat svaran ca kalavimkat

se…. nam harati sri mat pramodawardhanikhyata”

“Kecantikannya diperoleh dari bulan purnama, lenggangnya dari angsa, dan suaranya dari burung kalawingka. Ia yang mulia bernama Pramodawardhani”

 

Pertama kali saya mendengar nama beliau ketika duduk di bangku sekolah dasar. Semenjak saat itu, saya pun dibuat penasaran hingga memaksa saya pergi ke toko buku lawasan namun tidak menemukan jawaban. Masih samar-samar memang dan kalah pamor dengan cerita Ken Dedes. Akhirnya saya bertanya pada guru sejarah kala itu malah di bilang “belum saatnya kamu mengenal beliau”. Pelajaran sekolah dasar tidak serumit di otakmu sekarang. Guru saya pun menyuruh untuk mendalami siapa Ken Dedes itu. Lagi –lagi Ken Dedes-Ken Arok , saya pun tamat membaca lika-liku kisah cinta mereka saat duduk di kelas empat. Akhirnya saya kubur dalam – dalam dulu keinginan saya untuk mendalami cerita Pramodawardhani ini. Hingga menginjak di bangku kuliah, saya masih belum puas tentang cerita putri cantik dari Medang ini. Kala itu, juga  saya malas sekali belajar dan lebih memilih hura-hura. Saya pun melupakan laku spiritual saya saat itu dan lebih memilih mall dan billiard hingga tamat kuliah.

Pada tahun 2012, saya pun berkesempatan lagi kembali seperti dulu. Saya lebih suka menyendiri dan pergi ke tempat-tempat petilasan. Tempatnya pun random sekali dari era Mataram kuno, Mataram Islam hingga era Kolonial Belanda. Saya amat suka sekali menghabiskan uang untuk jalan-jalan hanya untuk melihat peninggalan masa lalu. Hampir seluruh kota besar dan beberapa kota kecil saya kunjungi. Sempat beberapa kali saya di bilang orang tidak waras karena menghabiskan waktu seharian di salah satu makam Belanda di kota besar tersebut. Sebenarnya saya sudah terbiasa dianggap kelainan jiwa dari taman kanak-kanak dikarenakan saya dulu pernah punya teman astral. Hingga pada bulan April 2013, saya mengunjungi Museum Nasional Jakarta yang ada patung gajahnya itu. Saya teringat kembali akan beliau “Pramodawardhani”. Kala itu memang saya tidak menemukan arca beliau namun beberapa arca peninggalan era Mataram Kuno saya lihat satu demi satu.

Sri Pramodawardhani yang dilahirkan dari keluarga beragama Buddha ini adalah putri seorang raja yang bernama Samaratungga. Nama Pramodawardhani sendiri berarti Pramoda : kegembiraan, senang dan Wardhani : tumbuh berkembang. Arti nama beliau tersebut terdapat dalam Prasasti Karangtengah yang berangkatahun 824 M. Menurut Dr.J.G. de Casparis, seorang ahli epigrafi (prasasti) Indonesia Kuno pernah mengatakan (Prasasti Indonesia I, 1950) bahwa tokoh Sri Pramodawardhani dari zaman Mataram Hindu, adalah identik dengan tokoh Sri Kahulunan. Saat beliau menginjak dewasa, sang putri ini menikah dengan seorang pangeran yang beragama Hindhu Siwa yang tak lain adalah Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Pernikahan agung ini berlangsung sekitar tahun 832 M. Selanjutnya kedua orang tokoh tersebut bersama-sama mendirikan Candi Plaosan yang bercorak agama Budha dan Hndhu. Jadi bisa dikatakan bahwa Candi Plaosan ini merupakan wujud cinta mereka.

Pada bulan Januari 2014, saya mengunjungi Candi Plaosan untuk pertama kalinya, seblumnya hanya lewat saja. Kala itu saat memasuki gerbang candi, saya sudah merasakan bahwa candi ini amatlah cantik. Tak lupa saya mengucapkan salam dan mengenalkan nama saya pada “mereka”. Hati saya makin tertambat pada candi cantik ini dan juga tokoh Pramodawardhani sendiri. Mungkin inilah yang dinamakan kisah roman Terindah pada era Medang. Mendalami Candi Plaosan yang begitu kompleks, kita tidak bisa terburu-buru dan asal mengambil gambar. Terkadang saya heran dengan pengunjung mereka hanya datang dan kemudian selfie, wefie. Bahkan ada yang memadu kasih alias berbuat mesum  di area candi. Sungguh sangat menyedihkan, tidak menghargai karya agung ini. Kembali pada cerita candi Plaosan, jika dilihat dari pahatan relief antara kedua candi induk. Kita bisa melihat cerita bagaimana perasaan cinta yang digambarkan pada dinding- dinding candi tersebut.

Relief pada candi induk sebelah selatan menggambarkan tokoh laki-laki, yang konon ceritanya sebagai bentuk kekaguman akan kecantikan Pramodawardhani. Sedangkan relief-relief cantik pada candi induk sebelah utara menggambarkan tokoh perempuan yang konon juga sebagai bentuk perasaan cinta Pramodawardhani yang meluap –luap pada Rakai Pikatan. Kisah cinta mereka sungguh seperti bunga mawar sedang merekah indahnya.

Padangan mataku menyapu seluruh area candi dan hingga memaksa saya untuk berjalan keluar pagar karena saya melihat sesuatu. Tiba-tiba saya teringat juga akan cerita jika pernikahan agung ini tidak di setujui oleh adik Pramodawardhani sendiri yaitu Balaputra. Kedua pihak keluarga baik-baik saja malah menyambut pernikahan agung ini dengan suka cita namun tidak bagi adiknya ini. Akibat dari tidak adanya persetujuan dari saudara laki-laki sang putri ini. Maka terjadilah peperangan yang dahsyat antara Rakai Pikatan dan Balaputra. Peperangan itu terjadi di desa Prambanan sekitar pertengahan abad 9 Masehi.

Sempat saya membayangkan belia pda jaman dahulu. Bahwa sekar kedaton Medang ini sering menggunakan mahkota yang terbuat dari emas dan mempunyai ukir-ukiran yang indah. Gelang temas bentuk naga yang melekat pada lengan beliau. Belum lagi gesper sabuk emas bertaburan permata. Busana yang dikenakan beliau amat pas dan lekukan-lekukan tubuh beliau amat indah sekali. Kecantikan beliau ini tidak kalah dengan dua putri Gayatri dari Wilwatikta hanya saja yang membedakan baginda putri Pramodawardhani ini lebih perempuan dan lembut jika dilihat dari perawakannya sedangkan kedua anak Gayatri lebih berpawakan atletis seperti ayahnya Raden Wijaya.

Keistimewaan  Pramodawardhani tersebut tidak hanya karena kecantikannya yang gemilang, lenggang yang menggiurkan (bagaikan angsa menari) dan suara yang merdu (bagaikan burung kalawingka), melainkan juga karena jasa-jasa beliau membangun candi bersama-sama ayahnya, Samaratungga. Selain mendirikan candi Plaosan, beliau juga mendirikan candi agama Budha yang disebut Wenuwana atau Srimad Wenuwana, berarti “Yang Mulia Candi Hutan Bambu”. Dalam bahasa Sanskerta wenu berarti: bambu dan wana: hutan.

Menurut J.G. de Casparis, Candi yang dibangun putri tersebut  adalah  Candi Mendut sekarang yang erat kaitannya dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur. Tetapi pendapat de Casparis itu sebetulnya masih meragukan. Lepas dari masalah benar tidaknya perkiraan ini oleh de Casparis. Tokoh putri Pramodawardhani merupakan seorang tokoh wanita zaman Mataram Hindu yang sungguh luar biasa hebatnya. Selain mempunyai wajah yang cantik jelita dan mempesona, Pramodawardhani juga seorang tokoh wanita yang taat beragama dan mempunyai peranan penting dalam pembangunan candi era Mataram kuno.

 

 

 

 

 

 

2 Comments Add yours

  1. Erwin Hidayat says:

    Dear Yulia. Perkenalkan saya Erwin Hidayat dari palembang dan tinggal di depok.

    Mohon maaf sebelumnya. untuk perkenalan apakah saya bisa minta no Hp yg bisa di hubungi guna Silaturahmi.

    “Apakah makna perjalanan Kerajaan Pajang Menuju Kerajaan Demak ”

    Sal

    Like

    1. yuliasujarwo says:

      maaf saya baru membuka blog saya,silahkan hubungi saya via facebook atau instagram. search aja kata Yulia Sujarwo

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s