Seorang Wanita Belanda yang Hampir Mengadopsi Ibuku

Bethesda_Hospital_Yogyakarta,_Kota_Jogjakarta_200_Tahun,_plate_before_page_97

Yogyakarta 1962

Anak perempuan bertubuh kecil, kurus kering, dengan tatapan sayu terbaring tak berdaya di salah satu ruangan Rumah Sakit Bethesda. Kala itu sebenarnya, dia sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup. Dia meninggalkan sekolah karena sakit parahyang hampir merenggut nyawanya. Penyakit TBC itu menggerogoti paru-parunya hingga menyebabkan anak kecil itu muntah darah yang kental tiap hari. Beruntungnya, dia dilarikan ke rumah sakit saat itu oleh keluarganya dan dengan bantuan dari keluarga keturunan Tiongha dikarenakan kakaknya bekerja pada keluarga itu yang lumayan kaya raya saat itu di daerah Ngabean.

Panggil saja namanya “kantring”, memang sering dipanggil demikian karena anak perempuan ini tubuhnya memang sangat kurus oleh karena itu dipanggil kantring kalau orang Jawa bilang “kontrang kantring”. Sangat diasayangkan sekali dia meninggalkan sekolah ketika duduk di kelas 4 jika tidak salah saya mengingatnya.

Sebenarnya cerita ini sudah lama sekali ingin saya tulis namun pekerjaan saya sangat menyita waktu hingga belum sempat menulisnya. Kantring adalah nama pamggilan kecil ibu saya. Beliau mempunyai nama asli Sumarni, dan satu hal yang kuingat dari beliau adalah Ibu yang keras kepala dan sangat hebat sekali dalam mendidik anak perempuan satu-satuya untuk disiplin. Wahai Ibu, aku sangat merindukanmu…

Kantring kecil di tempatkan ruangan khusus saat itu dan dikarantina ketat. Mengunjunginya hanya saat pada saat sore saja kalaupun jika ingin menengoknya pada pagi hari harus lewat jendela belakang ruangan. Sehari-harinya dia hanya ditemani suster Jawa dan seorang dokter Belanda yang sering mengunjunginya kala itu. Sayangnya ibu saya lupa nama beliau. Dokter Belanda itu adalah seorang wanita Belanda bermata biru, sorotnya yang tajam namun meneduhkan orang yang melihatnya. Dokter itu kerap kali menggunakan bahasa Belanda dengan suster dan para staf rumah sakit Bethesda kala itu tapi jika dengan pasien beliau dapat berbicara dengan bahasa Indonesia dengan baik.

Kuakui, aku belum mengenal lebih dalam tentang ibuku dan aku menyesal, cerita ini juga sebenarnya diceritakan kepada saya anak perempuan satu-satunya ketika beliau sakit 4 tahun lalu di hari ketiga ketika beliau mondok di sebuah rumah sakit. Saya hanya bisa menangis beliau cerita banyak tentang masa kecilnya, pengalaman-pengalaman dia saat beliau masih hidup. Termasuk cerita lucu namun horor saat rawat inap di rumah sakit Bethesda itu.

Saya pikir hampir semua rumah sakit itu tidak akan istimewa jika tidak ada suasana misteri membalutnya contoh saja selama ibu saya mondok karena sakit dan harus dikarantina di ruangan khusus dan sendirian tidur di sana. Tiap malam beliau didatangi oleh anak kecil kadang 2 orang kadang 5 orang. Ibu saya saat itu masih kecil jadi kadang dia tidak takut malah mengira anak-anak hantu tadi adalah anak -anak dari suster Jawa atau anak -anak dari yang tukang bersih-bersih rumah sakit. Satu hal yang beliau ingat mereka terkadang mempunyai mata yang hitam-hitam dan pucat. Terkadang pula anak-anak itu ada yang Belanda. Mereka cukup lama bermain di ruangannya namun dikarenakan sakit kadang ibu saya tidak ikut bermain dengan mereka dan hanya menonton mereka sambil tiduran di ranjang rumah sakit.

Empat tahun sudah ibu saya meninggal tepat pada tanggal 11 Desember 2013 lalu beliau menghembuskan nafasnya terakhir, dan saat itu adalah momen hidup saya paling hancur dan berada di titik terendah sekali. Sehingga membuat saya depresi berbulan-bulan lamanya, membutuhkan waktu yang lama untuk melepas beliau kembali pada Ilahi. Tulisan saya ini saya buat pun dengan jantung yang berdebar-debar sekali mencoba untuk tenang dan fokus menulisnya.

Selama kurang lebih 2 bulan lamanya, ibu saya di rawat oleh dokter Belanda itu hingga di nyatakan sembuh. Namun sebelum diijinkan pulang ke rumah, beberapa hari sebelumnya ibu saya ditahan oleh dokter Belanda hal ini dikarenakan wanita Belanda itu ingin membawa ibu saya pulang ke Belanda tepatnya pulang ke kota Amsterdam. Dokter itu belum menikah sepertinya dan hanya ingin mengadopsi anak dari Jawa. Kala itu ibu saya adalah pasien terakhirnya di Rumah Sakit Bethesda.

Dokter Belanda itu harus segera pulang ke Belanda dikarenakan ada utusan dari pemerintah yang mengharuskan dia pulang secepatnya. Konon kondisi Indonesia saat itu belum stabil dan kemungkinan saya jika itu benar hal ini dikarenakan kasus 65 yang sudah diprediksi jauh-jauh hari bakalan meletus. Oleh karena itu, orang asing yang tinggal di Indonesia khususnya Pulau Jawa harus pulang ke asalnya walaupun terkadang orang-orang itu belum pernah sama sekali melihat tanah leluhurnya karena kebanyakan orang-orang Belanda saat itu lahir di sini.

Well, saat itu sebenarnya oleh keluarga saya diperbolehkan ibu saya akan diadopsi oleh wanita Belanda itu namun ibu saya yang tidak mau dikarenakan takut dan beliau masih “mbok-mboken” tapi bukan ke ibunya (nenek saya) malah “mbok-mbokenya” sama budhe saya yaitu kakak kandungya sendiri. Mungkin jika ibu saya diadopsi, saya tidak akan bisa menulis seperti ini. Hal lucu juga tertoreh pada nama saya, sebenanrnya ibu saya memberikan nama Yulia kepada anaknya itu bukan karena beliau melahirkan saya di bulan Juli namun dia juga seorang pengangum dokter yang pernah merawatnya. Karena lupa nama beliau, akhirnya diberikan nama Yulia dari kata “Julianna” ( Ratu Belanda). Ejaan Yulia lebih lokal kata ibu saya dulu.

Saya sudahi dulu tulisan saya kali ini jika saya lanjutkan takutnya saya meneteskan air mata lagi… Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s