Panggil Aku juga Panglima Perang

  M, 1334   Kuberikan nama indah untukmu Itu adalah doa, harapan dan cintaku padamu Ku ingin engkau seperti leluhurmu  saat dewasa nanti Kelahiranmu adalah suatu pertanda kedamaian bagi kami Kau memang kami damba dengan segenap jiwa Segenap jiwa kami berikan tukmu  anakku Sepenuh hati kami berjuang untukmu Anakku sayang.. Kau harapan kami tuk masa…

Wahai Adikku Dyah Wyat Part IV

M, 1333 Biarkanlah hujan membasahi bumi ini Karena setelah itu diwajahmu kan ku lihat pelangi Biarkanlah daun-daun berguguran ke bumi Kasih sayangku padamu akan terus mengalir hingga akhir hayatku Wahai, adikku yang paling aku sayangi Andaikan semua bisa kau bagi Aku ingin rasakan deritamu saat ini Walaupun sakitnya seperti di tusuk duri hingga menjadikan hatiku…

Hari Besarku Menjadi Raja Perempuan Pertama di Tanah “M

M, 1333 Aku tidak pernah menyangka akan secepat ini mengepalai sebuah kerajaan. Karena pada saat itu yang kupikirkan adalah menikah dengan seorang pangeran tampan yang seusia denganku. Kemudian melanjutkan pekerjaanku sebagai bawahan penguasa Jiwana. Tiba- tiba, Aku dipanggil oleh ibundaku untuk menjadi raja di kerajaan warisan Wijaya ini dengan pengawasan Patih muda. Aku masih ingat…

Suatu hari di Kerajaan Majapahit

Quote: “For every beauty there is an eye somewhere to see it. For every truth there is an ear somewhere to hear it. For every love there is a heart somewhere to receive it” By: Alexander Pushkin M, 1330   Menjadi raja perempuan tentulah tidak mudah, banyak beban yang harus kupikul. Terutama menjaga nama baik…

Wahai Kekasihku, Aku Masih Menunggu Keretamu Datang Part III

Desember 1920 Tak perlu kalian risaukan keberadaanku sekarang, aku hanyalah bagian dari sepenggal cerita dari masa kolonial Belanda. Sampai  kapanpun aku akan tetap berada di sini menunggu kereta kekasihku datang. Namun jika kalian pernah melihatku dan mencoba menelisik kehidupan lebih lanjut lagi maka aku akan diam membeku dan menghantui kalian hingga kalian tidak bisa tidur…

Aku Mengabisi Nyawaku Sendiri Untuk Kehormatan Ayahku II

Daha 1293   “Nduk, cah ayu. Janganlah engkau bersedih hati. Semua sudah takdir.” Kata Ratna sambil memelukku. “Bersedih hati itu wajar, aku pun mengerti perasaanmu ketika ayahku membunuh ayah dan ibumu.” Aku membalas pelukannya. “Dari mana kamu tahu  asal – usulku? Kamu tidak sedang menggigau bukan?” Ratna tampak kaget dan berpura-pura bodoh. “Tidak Diajeng, aku…

Aku Mengabisi Nyawaku Sendiri Untuk Kehormatan Ayahku

Daha 1293 Sebelum kuceritakan kisah akhir hayatku, aku ingin memperkenalkan diriku. Panggil saja aku Putri Daha. Ya Putri Daha, tak usah kalian tahu nama asliku. Tetapi kalian mungkin tahu nama ayahku. Beliau salah satu raja di salah satu kerajaan di daerah timur dan terkenal bengis. Siapa saja yang menentang beliau maka kepala kalian akan lepas…

Wahai Kekasihku, Aku Masih Menunggu Keretamu Datang Part II

Wahai Kekasihku, Aku Masih Menunggu Keretamu Datang Part II Desember 1920 Masih ingatkah kalian ceritaku sebelumnya tentang sepenggal kisah percintaanku dan Stasiun Bedono? Jika kalian masih ingat maka akan kuteruskan cerita ini mumpung penulisnya sedang tidak labil dan seperti biasanya perempuan Jawa ini merokok hingga berbatang-batang kadang “teman-teman” astralnya sejenis saya menegurnya namun tak dihiraukannya….

Gadis Penjual Kecap

Gadis – Gadis Penjual Kecap   Yogyakarta Mei 1948 “Mbakyu, ayo kita ke Desa Krapyak. Kita harus mendapatkan beras hari ini” “Iya nduk, orang tua kita akan marah jika tidak ada beras” Parjinah kecil bersemangat sekali memikul barang dagangannya berupa 7 buah botol kecap kecil dan ajaknya pula kakak sepupunya si Sumi. Mereka sudah tidak…